Pages

Lingkar Tanah Lingkar Air Resensi-Review

Sabtu, 28 November 2015

                                                         

Judul                 : Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis              : Ahmad Tohari
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus : 2015 (sampul baru)
Tebal                 : 20 cm
Halamam          : 168 halaman
ISBN                  : 978-602-03-1860-8 


Pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan RI antara tahun 1946—1950 menyeret banyak pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Di antara mereka adalah Amid dan kawan-kawan yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.



Tetapi sejarah membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sesungguhnya seorang yang sangat cinta Tanah Air sering bimbang karena pasukannya
sering memerangi warga seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Dia tidak sedih ketika Khalifah DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tertangkap dan menyerukan seluruh laskarnya menyerahkan diri.

Tiga tahun kemudian Amid dan kawan-kawan malahan diminta oleh tentara untuk membantu menumpas pasukan komunis yang bertahan di hutan jati. Mereka kembali mengangkat senjata, kali ini atas nama Tentara RI, sesuatu yang pernah amat didambakan Amid; bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.
***
                Siapa yang tidak mengenal Ahmad Tohari? Seorang penulis berbakat yang terkenal dengan tulisannya yang bertemakan sejarah masa lalu. Walau menulis sebuah kisah yang sudah lama terjadi, tapi Ahmad Tohari dapat mengemas itu semua menjadi sebuah karya tulis dengan kalimat-kalimat yang mengalir dan mudah untuk dipahami.

                Salah satu dari sekian banyak bukunya adalah Lingkar Tanah Lingkar Air. Buku yang memuat sebuah sejarah besar mengenai DI/TII dapat menjadi salah satu bacaan yang baik, terutama bagi pelajar yang harus tahu akan sejarah tapi malas mempelajarinya melalui buku pelajaran, dengan membaca novel ini kita juga dapat tahu sedikit tentang sejarah DI/TII.

                Novel yang dibuat dengan menggunakan sudut orang pertama ini juga sangat membantu kita untuk dapat lebih masuk ke dalam cerita. Seolah-olah kita adalah tokoh dalam kisah ini dan kita dapat lebih mengerti tentang pergolakan emosi tokoh dengan dirinya dan orang sekitar. Hal itu juga membuat kita lebih mengenal akan DI/TII yang selama ini hanya kita ketahui kulitnya saja.

                Setiap tokoh di dalam novel ini juga dituturkan dengan baik, sehingga kita dapat membayangkan setiap tokoh dan sifat mereka yang unik dengan mudah. Novel juga penuh dengan nasihat-nasihat bijak dari kiai yang sebenarnya juga bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya

                Alur cerita yang maju mundur juga membuat pembaca tidak mudah bosan dan ditambah lagi dengan transisi perpindahan waktu yang begitu apik dan membuat seakan tidak ada gap ketika akan terjadi perpindahan waktu.

                Tapi dari semua keindahan dan keunikan yang diberikan oleh novel ini, ada satu yang tidak diberikan. Yaitu, penjelasan dari setiap bahasa Jawa yang muncul. Jika kalangan awam yang tidak mengerti akan bahasa Jawa yang membaca buku ini, mereka pasti akan bingung dan tidak mengerti apa maksud dari kata-kata tersebut.

                Namun walaupun begitu, novel ini tetap menjadi novel yang baik untuk dibaca, terutama untuk para anak muda yang harus lebih mengenal akan sejarah bangsanya sendiri, sehingga para pemuda bisa lebih mencintai bangsa Indonesia.

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS