Pages

Jelajah Mahligai Sahaja

Minggu, 27 Desember 2015


Sudah 18 tahun aku hidup dalam dunia ini, dan selama 18 tahun itu juga ada berbagai pengalaman senang, sedih, marah, malu, dan yang lainnya. Tapi hidup sebagai seorang anak rumahan, yang harus berpikir ratusan kali ketika akan melangkahkan kaki keluar rumah, tidak membuatku menjadi seseorang yang benar-benar tidak pernah melakukan perjalanan.
Ya, walau hanya sebuah perjalanan kecil-tapi sangat membekas dan menjadi perjalanan yang menyenangkan. Passport to Happiness. Kau tahu passport to happiness versiku? Keberanian. Umurku masih belasan tahun ketika aku akan melakukan suatu perjalanan yang cukup panjang. Langit masih gelap-di saat semua mata masih terlelap aku masih saja terjaga. Tidak bisa terlelap-terlalu bersemangat untuk hari esok yang akan menjadi pengalaman pertamaku. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi dan aku dengan gagahnya sudah berjalan di tengah kompleks yang masih gelap-rasa senang akan berpergiaan membuatku mengenyahkan semua pikiran aneh dan menakutkan ketika harus berjalan dalam gelap sendirian. Tidak ada perjalanan yang lebih menyenangkan ketika kau bisa berpergiaan dengan orang-orang terdekatmu. Teman-teman satu kelas yang sudah menjalani 3 tahun kehidupan di SMP bersama-sama. Ya, ini adalah perjalanan perpisahan – kuharap ini adalah perpisahan yang menyenangkan. Waktu begitu cepat berlalu jika kau bersama dengan orang-orang yang menyenangkan dan tertawa bersama. Dan ini dia! Perjalanan yang kami tunggu-tunggu! Mendaki gunung! Kami memilih Curug Gendang-Bogor sebagai objek perjalanan kami kali ini – walau sebenarnya guru-guru kami yang memilihnya. Kami meninggalkan semua perlengkapan yang tidak perlu di dalam bis, sedangkan aku? Aku hanya membawa diriku sendiri dengan sebuah botol minum yang kupegang. Perjalanan awal kami hanya melewati sebuah jalan setapak yang lama-kelamaan menanjak ke atas–lelah memang, tapi menyenangkan. Lelah pun tak terasa bila bersama mereka yang bisa membuatmu tertawa lepas, bahkan mengemil pun kami lakukan saat kami
menanjak menaiki gunung itu. Aku tidak tahu apa bisa menyebutnya sebagai gunung, tapi ya sudahlah, penyebutannya tidak terlalu berarti, bukan? Perjalanan terus berlanjut, kali ini jalanan yang kami naiki sudah berupa tanah yang becek. Sepertinya sebelum kedatangan kami ada hujan yang membuat kami harus sangat hati-hati dalam melangkah, kalau tidak nasib kami akan sama seperti guru kami yang sudah terpeleset. Sebelum kemari, aku pernah mencari tahu tentang lokasi ini, dan kalian tahu, yang aku dapatkan adalah tempat ini cukup menyeramkan. Ada saja orang-orang yang mendaki dan menghilang, tidak dapat ditemukan lagi. Hal itu semakin membuatku yakin adanya, ketika aku melihat sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu kaki dan sisanya adalah jurang dengan pohon-pohon lebat di bawahnya yang siap menyambutmu jika kau jatuh.
Aku merasa seperti sedang berjalan di pintu maut, harus berjalan menyamping dengan langkah yang sangat hati-hati. Berusaha untuk tidak melihat ke bawah dan akhirnya aku bisa melalui jalanan maut itu. Tidak cukup sampai di sana saja! Kini aku harus diperhadapkan lagi dengan sebuah aliran sungai kecil dengan batu-batu licin di sungai kecil itu. Salahku tidak memakai sepatu gunung dan hanya memakai sepatu sekolah biasa yang bawahnya pun sudah aus. 
“Ayo.” 
Itu dia! Dia seorang teman sekelasku, mengulurkan tangan, mencoba membantuku melangkah. Awalnya aku ragu menerima uluran tangannya. Bagaimana tidak? Dia seorang pria dan bila aku meraih tangannya, sudah kupastikan gossip-gosip akan terus menyebar. “Ayo, Tan, santai aja kali.” 
Mungkin aku yang terlalu membawa perasaan, tapi ya sudahlah akhirnya aku raih juga tangannya. Setelah melewati sungai itu aku mencoba untuk melepaskan tanganku, tapi ia tidak melepaskannya. Canggung awalnya tapi begitu aku lihat berbagai tantangan lagi di depan, mungkin lebih baik jika aku tetap berpegangan tangan. Perjalanan melelahkan yang menguras tenaga terbalas ketika kami sudah mencapai tujuan kami, air terjun! Ya, langsung saja kami loncat ke dalam air dan membiarkan air yang dingin itu membasuh segala kelelahan kami. Puas bermain air, kami harus turun kembali, dan perjalan turun itu lebih sulit daripada harus naik. Kali ini aku turun tanpa bantuan pria itu lagi. Walaupun aku ini anak rumahan yang jarang berpergian, tapi aku tetap gadis strong! Setelah mengetahui semua tantangan yang aku temui ketika naik, dengan mudah aku bisa melewati tantangan itu lagi ketika harus turun, ya walau kadang tetap membutuhkan sedikit bantuan.
Perjalanan turun cukup membuat baju kami kembali kering setelah basah karena bermain air. Perjalanan berikutnya adalah menuju lokasi terakhir. Pantai. Ketika lelah bermain di gunung sangat menyenangkan ketika kau disambut oleh bau asin dari pantai dan lembutnya pasir yang bermain di telapak kakimu. Di sana kami makan bersama dan bermain di pantai. Ketika waktu bermain kami habis, kami harus segera kembali dan merapikan barang-barang kami sebelum kembali. Tapi sebelum itu, ini yang akan kami lalui – pengumuman lulus tidak lulusnya ujian nasional. Wajah guru-guru yang sudah berdiri di hadapan kami sangat tidak mudah ditebak, dan kami masih saja terus bertanya-tanya dalam pikiran kami masing-masing.
 “Kalian telah melakukan yang terbaik untuk Ujian Nasional kali ini, tapi tetap saja di antara kalian harus ada yang harus tinggal dan berjuangan satu tahun lagi – ada dua orang dari antara kalian yang tidak lulus dan itu adalah… Samuel dan Aniesha.” 
Aku sangat ingat akan kejadian saat itu, saat guru kami memberitahukan kami bahwa teman kami ada yang tidak lulus, tangis pun pecah dan kami tidak tahu harus bersedih atau berbahagian karena kebanyakan dari kami berhasil lulus. 
“Namun, kalian perlu tahu, bahwa itu semua bohong– kalian semua lulus 100%.” Kau tahu rasanya dikerjai? Menyebalkan? Tentu saja! Dan bagaimana jika yang mengerjaimu adalah guru-gurumu sendiri dan bahan yang dijadikan lelucon ini adalah tentang kelulusan kami. Kami tidak
tahu harus mengutarakan apa lagi, semua perasaan sudah campur aduk dan hanya tangis haru saja yang bisa kami keluarkan. Atmosfer yang benar-benar menyesakkan dada memenuhi seluruh saung yang kami sewa saat itu. Lelah menangis, kami ganti dengan tawa dan ucapan syukur yang tiada hentinya kepada sang pencipta yang sudah membantu dan terus menyertai kami, hingga detik ini kami bisa melalui ujian nasional dan lulus bersama-sama. Semua itu ditutup dengan melihat pemandangan matahari terbenam – yang juga menjadi penutup perjalanan kami yang begitu… entahlah bahkan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan mengenai perjalanan satu ini. Tapi apapun itu, ini adalah salah satu perjalanan terbaik dan sangat membahagiakan dalam hidupku, dan hidup masih terus berlanjut, bukan? Akan kubuat banyak kenangan perjalanan lainnya. Sabarlah menanti, tinggal tunggu waktu mainnya saja.

Butuh sebuah keberanian melangkah untuk menemukan pintu kebahagiaanmu di setiap langkah yang kaulewati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS